Pages

Sejarah Lengkap Kesultanan Mataram (bag 3)

Pertapaan Kembang Lampir


Kembang Lampir merupakan petilasan Ki Ageng Pemanahan yang terletak di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Tempat ini merupakan pertapaan Ki Ageng Pemanahan ketika mencari wahyu karaton Mataram. Ki Ageng Pemanahan merupakan keturunan Brawijaya V dari kerajaan Majapahit. Dalam bertapa itu akhirnya ia mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga bahwa wahyu karaton berada di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul. Untuk itu ia diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk cepat-cepat pergi ke sana. Sampai di Sodo ia singgah ke rumah kerabatnya, Ki Ageng Giring. 

Diceritakan bahwa di tempat itu Ki Ageng Giring dan Pemanahan "berebut" wahyu karaton yang disimbolkan dalam bentuk degan (kelapa muda). Barangsiapa meminum air degan itu sampai habis, maka anak keturunannya akan menjadi raja Tanah Jawa. Konon degan tersebut merupakan simbol persetubuhan dengan seorang puteri. Dalam perebutan wahyu tersebut Ki Ageng Pemanahan yang berhasil memenangkannya. (Lihat rubrik: Makam Ki Ageng Giring).

Untuk dapat sampai ke tempat pertapaan ini pengunjung harus melewati anak tangga permanen yang telah dibangun. Adapun denah kompleks Kembang Lampir berbentuk angka 9 (sembilan). Hal ini sebagai tanda bahwa kompleks itu dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Bangunan yang ada di sana antara lain : Bangunan induk sebagai tempat penyimpanan pusaka "Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga" serta dua buah Bangsal Prabayeksa di kanan dan di kiri. Menurut jurukunci, Surakso Puspito, sebagai penghormatan kepada para pepundhen Mataram di kompleks itu juga dibangun beberapa patung antara lain : Panembahan Senapati dan Ki Ageng Pemanahan, serta Ki Juru Mertani. 


KOMPLEKS KEMBANG LAMPIR:
Kembang Lampir dibangun di atas sebuah bukit dan dikelilingi pagar.
Kalau kita berada di Bangsal Prabayeksa, maka kita dapat menikmati
keindahan pemandangan di desa Giri Sekar tersebut.
Tempat Pemujaan Kembang Lampir 



Situs Plered

Situs Plered merupakan bekas ibukota Mataram masa pemerintahan Sultan Agung.. Keraton Plered dapat dikatakan sudah tidak bersisa. Kini hanya menjadi nama kalurahan dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul. 

Di Plered ini juga terdapat Segarayasa, berasal dari kata segara (Laut) dan yasa (buatan) atau laut buatan. Secara harafiah diartikan sebagai telaga buatan. Konon dibuat oleh Sultan Agung untuk memenuhi permintaan Sang Permaisuri yang mempunyai keinginan agar dibuatkan laut yang mirip laut selatan. Permintaan ini dipenuhi dengan membuat telaga buatan di dekat Sungai Opak, tidak jauh dari Karaton Mataram yang waktu itu berada di Plered. Kini Segarayasa diabadikan sebagai nama desa di wilayah Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul.


TINGGAL NAMA: Keraton Plered tinggal nama, namun nama itu diabadikan menjadi nama dusun, desa, dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul. Seperti yang terlihat di foto, Keputren tempat para puteri Mataram bersemanyam kini menjadi nama dusun.

SUMUR GUMULING: Merupakan sumur kuno peninggalan kerajaan Mataram di Plered. Sampai sekarang sumur ini ramai dikunjungi peziarah yang meyakini berkah dari air sumur.


KERATON MATARAM KARTA

Karta, Kerta, atau Charta adalah nama sebuah dusun di wilayah Kalurahan Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, Yogyakarta (kurang lebih 4 kilometer arah selatan dari Kotagede). Karta dulunya adalah sebuah nama kompleks Keraton Mataram (setelah Mataram Kotagede). Keraton Mataram Karta dibangun oleh Sultan Agung. Waktu pembangunan keraton ini tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi mengingat Sultan Agung naik tahta sekitar tahun 1614-an, maka pada abad itulah kira-kira Karta dibangun. Ketika pembangunan Keraton Kerta dilakukan, Sultan Agung untuk sementara masih tinggal di dalam keraton ayah dan neneknya, yaitu di Kotagede.

Peninggalan-peninggalan Keraton Kerta dapat dikatakan sangat minim. Peninggalan yang minim itu pun tidak begitu banyak membantu untuk memperkirakan bagaimanakah kira-kira bentuk Keraton Kerta pada zamannya. Benda peninggalan yang dapat ditemukan di sana hanya berupa dua buah umpak/alas tiang yang terbuat dari batu andesit, sisa batuan berbentuk persegi yang diduga merupakan salah satu komponen batur. Umpak tersebut berbentuk prisma terpancung. Jumlah umpak tersebut semula adalah empat buah. Satu buah dibawa ke Taman Sari Yogyakarta dan digunakan sebagai alas tiang/umpak Masjid Saka Tunggal yang ada di kompleks Taman Sari Yogyakarta. Sedangkan umpak yang satu lagi berada di Desa Trayeman, Bantul.



Pada sisi selatan umpak-umpak tersebut terdapat struktur batu putih yang membujur ke arah timur-barat (sekarang sudah tidak kelihatan bekas-bekasnya). Selain peninggalan-peninggalan tersebut, ada lagi peninggalan yang lain yang berupa kompleks makam lama dan sisa-sisa masjid agung Kerta.

Parangkusuma

Pantai Parangkusuma merupakan kawasan sakral kerajaan Mataram, di sana terdapat batu yang konon merupakan tempat pertemuan antara Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senapati berikut raja-raja Mataram penerusnya. Di tempat inilah Senapati pernah bertapa untuk meminta bantuan Ratu Kidul dalam memperbesar kerajaannya. 

Parangkusuma pada saat ini masih sering dipergunakan sebagai tempat untuk meditasi atau nenepi oleh masyarakat yang ingin memanjatkan doa/permintaan, khususnya setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Pada malam 1 Sura tempat ini penuh sesak didatangi para peziarah dari berbagai kota untuk melakukan sesaji dan ziarah terhadap Ratu Kidul.

CEPURI PARANGKUSUMA: Cepuri ini di dalamnya terdapat 2 buah batu tempat pertemuan antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Untuk masuk ke cepuri, peziarah harus meminta izin terlebih dahulu kepada juru kunci. Apabila juru kunci tidak ada di tempat peziarah cukup menabuh kentongan yang ada di pintu masuk cepuri sebagai isyarat memanggil kedatangan juru kunci.


sumber http//www.tembi.org/mataram

Artikel Terkait



1 komentar:

Ki Ajar Alang Alang, Putra Radian Kolosingo, Trah Ki Ageng Mangir mengatakan...

Menarik, kunjungi blogku juga ya!!

http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/2013/01/makam-ambo-mayangsari-istri-pangeran.html

Makam istri Pangeran Purbaya ini terletak di Kampung Cimpaeun Tapos Depok Jawa Barat, Pangeran Purbaya adalah putra Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang berperang dengan anaknya sendiri Sultan Haji (Putra mahkota yang takut tahtanya dialihkan ke Pangeran Purbaya) yang berdiri dipihak VOC Belanda, Mbah Nyai Ambo Mayangsari masih keturunan dari Ki Kartaran atau Purwagalih keturunan Prabu Siliwangi yang bermakam di dalam kompleks Kebun Raya Bogor. Peranan Ambo Mayangsari dalam peperangan Banten dengan VOC sangat vital, sebab beliaulah yang mengatur logistik dan pengadaan dana pelarian, dua panglima lainnya adalah Mbah Riin (Arifin) Reksobuwono yang dimakamkan di atas rumah potong hewan Tapos dan Mbah Dalem Kuning Lie Suntek yang dimakamkan di tepi mata air Kali Sunter Cilangkap Tapos Depok. Ambo Mayangsari adalah tokoh pejuang perempuan yang mampu menyadarkan arti kemerdekaan sehingga Letnan VOC Untung berbalik memusuhi tentara VOC yang ikut menangkap Pangeran Purbaya, bahkan Letnan VOC Kueffler mati ditusuk bayonet Letnan Untung karena menghinakan Pangeran Purbaya dan Ambo Mayangsari yang telah terikat. Letnan Untung akhirnya menuju Mataram Surakarta ke Jawa Timur karena mendapat mandat Pangeran Purbaya untuk mengawal istri Pangeran Purbaya yang lain yaitu Nyai Gusik Kusuma, putri dari adipati Nerangkusumo dari Mataram Surakarta.

Poskan Komentar